Selamat Datang

SELAMAT DATANG DI MY BLOG FREDY.NABABAN NPM:12411965 Salam Sejahtera

Selasa, 20 Maret 2012

Evolusi Teori Manajemen


Sejarah Perkembangan Manajemen

Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.
Kata manajemen mungkin berasal dari bahasa Italia (1561) maneggiare yang berarti “mengendalikan,” terutamanya “mengendalikan kuda” yang berasal dari bahasa latin manus yang berati “tangan”. Kata ini mendapat pengaruh dari bahasa Perancis manège yang berarti “kepemilikan kuda” (yang berasal dari Bahasa Inggris yang berarti seni mengendalikan kuda), dimana istilah Inggris ini juga berasal dari bahasa Italia.Bahasa Prancis lalu mengadopsi kata ini dari bahasa Inggris menjadi ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur.
Sejarah Perkembangan Ilmu Manajemen
Banyak kesulitan yang terjadi dalam melacak sejarah manajemen. Namun diketahui bahwa ilmu manajemen telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan adanya piramida di Mesir. Piramida tersebut dibangun oleh lebih dari 100.000 orang selama 20 tahun. Piramida Giza tak akan berhasil dibangun jika tidak ada seseorang—tanpa mempedulikan apa sebutan untuk manajer ketika itu—yang merencanakan apa yang harus dilakukan, mengorganisir manusia serta bahan bakunya, memimpin dan mengarahkan para pekerja, dan menegakkan pengendalian tertentu guna menjamin bahwa segala sesuatunya dikerjakan sesuai rencana.
Pemikiran awal manajemen
Sebelum abad ke-20, terjadi dua peristiwa penting dalam ilmu manajemen. Peristiwa pertama terjadi pada tahun 1776 ketika Adam Smith menerbitkan sebuah doktrin ekonomi klasik, The Wealth of Nation. Dalam bukunya itu, ia mengemukakan keunggulan ekonomis yang akan diperoleh organisasi dari pembagian kerja (division of labor), yaitu perincian pekerjaan ke dalam tugas-tugas yang spesifik dan berulang. Dengan menggunakan industri pabrik peniti sebagai contoh, Smith mengatakan bahwa dengan sepuluh orang—masing-masing melakukan pekerjaan khusus—perusahaan peniti dapat menghasilkan kurang lebih 48.000 peniti dalam sehari. Akan tetapi, jika setiap orang bekerja sendiri menyelesaikan tiap-tiap bagian pekerjaan, sudah sangat hebat bila mereka mampu menghasilkan sepuluh peniti sehari. Smith menyimpulkan bahwa pembagian kerja dapat meningkatkan produktivitas dengan (1) meningkatnya keterampilan dan kecekatan tiap-tiap pekerja, (2) menghemat waktu yang terbuang dalam pergantian tugas, dan (3) menciptakan mesin dan penemuan lain yang dapat menghemat tenaga kerja.
Peristiwa penting kedua yang mempengaruhi perkembangan ilmu manajemen adalah Revolusi Industri di Inggris. Revolusi Industri menandai dimulainya penggunaan mesin, menggantikan tenaga manusia, yang berakibat pada pindahnya kegiatan produksi dari rumah-rumah menuju tempat khusus yang disebut pabrik. Perpindahan ini mengakibatkan manajer-manajer ketika itu membutuhkan teori yang dapat membantu mereka meramalkan permintaan, memastikan cukupnya persediaan bahan baku, memberikan tugas kepada bawahan, mengarahkan kegiatan sehari-hari, dan lain-lain, sehingga ilmu manajamen mulai dikembangkan oleh para ahli.
Era moderen
Era moderen ditandai dengan hadirnya konsep manajemen kualitas total (total quality management—TQM) di abad ke-20 yang diperkenalkan oleh beberapa guru manajemen, yang paling terkenal di antaranya W. Edwards Deming (1900–1993) and Joseph Juran (lahir 1904).
Deming, orang Amerika, dianggap sebagai Bapak Kontrol Kualitas di Jepang. Deming berpendapat bahwa kebanyakan permasalahan dalam kualitas bukan berasal dari kesalahan pekerja, melainkan sistemnya. Ia menekankan pentingnya meningatkan kualitas dengan mengajukan teori lima langkah reaksi berantai. Ia berpendapat bila kualitas dapat ditingkatkan, (1) biaya akan berkurang karena berkurangnya biaya perbaikan, sedikitnya kesalahan, minimnya penundaan, dan pemanfaatan yang lebih baik atas waktu dan material; (2) produktivitas meningkat; (3) market share meningkat karena peningkatan kualitas dan harga; (4) profitabilitas perusahaan peningkat sehingga dapat bertahan dalam bisnis; (5) jumlah pekerjaan meningkat. Deming mengembangkan 14 poin rencana untuk meringkas pengajarannya tentang peningkatan kualitas.
Kontribusi kedua datang dari Joseph Juran. Ia menyatakan bahwa 80 persen cacat disebabkan karena faktor-faktor yang sebenarnya dapat dikontrol oleh manajemen. Ia merujuk pada “prinsip pareto.” Dari teorinya, ia mengembangkan trilogi manajemen yang memasukkan perencanaan, kontrol, dan peningkatan kualitas. Juran mengusulkan manajemen untuk memilih satu area yang mengalami kontrol kualitas yang buruk. Area tersebut kemudian dianalisis, kemudian dibuat solusi, dan diimplementasikan.
Teori manajemen
Manajemen ilmiah
Manajemen ilmiah kemudian dikembangkan lebih jauh oleh pasangan suami-istri Frank dan Lillian Gilbreth. Keluarga Gilbreth berhasil menciptakan micromotion yang dapat mencatat setiap gerakan yang dilakukan oleh pekerja dan lamanya waktu yang dihabiskan untuk melakukan setiap gerakan tersebut. Gerakan yang sia-sia yang luput dari pengamatan mata telanjang dapat diidentifikasi dengan alat ini, untuk kemudian dihilangkan. Keluarga Gilbreth juga menyusun skema klasifikasi untuk memberi nama tujuh belas gerakan tangan dasar (seperti mencari, menggenggam, memegang) yang mereka sebut Therbligs (dari nama keluarga mereka, Gilbreth, yang dieja terbalik dengan huruf th tetap). Skema tersebut memungkinkan keluarga Gilbreth menganalisis cara yang lebih tepat dari unsur-unsur setiap gerakan tangan pekerja.
Skema itu mereka dapatkan dari pengamatan mereka terhadap cara penyusunan batu bata. Sebelumnya, Frank yang bekerja sebagai kontraktor bangunan menemukan bahwa seorang pekerja melakukan 18 gerakan untuk memasang batu bata untuk eksterior dan 18 gerakan juga untuk interior. Melalui penelitian, ia menghilangkan gerakan-gerakan yang tidak perlu sehingga gerakan yang diperlukan untuk memasang batu bata eksterior berkurang dari 18 gerakan menjadi 5 gerakan. Sementara untuk batu bata interior, ia mengurangi secara drastis dari 18 gerakan hingga menjadi 2 gerakan saja. Dengan menggunakan teknik-teknik Gilbreth, tukang baku dapat lebih produktif dan berkurang kelelahannya di penghujung hari.
Pendekatan kuantitatif
Pendekatan kuantitatif adalah penggunaan sejumlah teknik kuantitatif—seperti statistik, model optimasi, model informasi, atau simulasi komputer—untuk membantu manajemen dalam mengambil keputusan. Sebagai contoh, pemrograman linear digunakan para manajer untuk membantu mengambil kebijakan pengalokasian sumber daya; analisis jalur kritis (Critical Path Analysis) dapat digunakan untuk membuat penjadwalan kerja yang lebih efesien; model kuantitas pesanan ekonomi (economic order quantity model) membantu manajer menentukan tingkat persediaan optimum; dan lain-lain.
Pengembangan kuantitatif muncul dari pengembangan solusi matematika dan statistik terhadap masalah militer selama Perang Dunia II.Setelah perang berakhir, teknik-teknik matematika dan statistika yang digunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan militer itu diterapkan di sektor bisnis. Pelopornya adalah sekelompok perwira militer yang dijuluki “Whiz Kids.” Para perwira yang bergabung dengan Ford Motor Company pada pertengahan 1940-an ini menggunakan metode statistik dan model kuantitatif untuk memperbaiki pengambilan keputusan di Ford.


PENDEKATAN MANAJEMEN ( Manajemen Pendidikan )




A.          Teori  Klasik

Teori klasik berasumsi bahwa para pekerja atau manusia itu sifatnya rasional, berfikir logic, dan bekerja merupakan suatu yang diharapkan. Salah satu teori klasik adalah manajemen ilmiah (scientific manajement) dipelopori oleh Prederik W. Taylor (1856-1915). Pendekatan ini berpandangan bahwa yang menjadi sasaran manajemen adalah mendapatkan kemakmuran maksimum bagi pengusaha dan karyawannya. Untuk itu manajemen harus melaksanakan prinsip-prinsip:
1.    Perlu dikembangkannya ilmu bagi settiap petugas (pedoman gerak, implementasi kerja yang standar dan iklim kerja yang layak)
1.    Pemilihan karyawan yang tepat sesuai dengan persyaratan kerja
2.    Perlunya pelatihan dan perangsangan
3.    Perlunya dilakukan penelitian-penelitian dan percobaan-percobaan

Filley, Kerr dan Hous (1976) kelemahan-kelemahan teori klasik secara garis besar dikemukakan sebagai berikut:
1.    Teori yang terikat waktu. Teori ini cocok untuk diterapkan dipermulaan abad dua puluhan, karena motif pekerjaan waktu itu terutama memenuhi kebutuhan fiolagis.
2.    Teori klasik mempunyai ciri-ciri deterministik. Teori yang menekankan pada prisip manajemen dan tidak memperhitungkan berbagai dimensi dalam manajemen.
3.    Teori ini merumuskan asumsi secara eksplisit. Yaitu yang efesiensinya hanya diukur oleh tingkat produktifitas yang hanya menyangkut penggunaan sumbersecara ekonomis tanpa memperhitungkan faktor manusiawi.

B.          Teori Neo-Klasik

Teori ini timbul karena pada para manajer terdapat berbagai kelemahan dengan pendekatan klasik. Teori ini berasumsi bahwa manusia itu makhluk sosial dengan mengaktualisasikan dirinya. Beberapa pelopor aliran teori neo kalsik antara lain Elton Mayo dengan studi dengan hubungan antar manusia, atau tingkah laku manusia dalam situasi kerja terkenal dengan studi Howthone. Berdasarkan hasil studi ini ternyata kelompok kerja informal lingkungan sosial pekerja mempunyai pengaruh yang besar terhadap produktivitas.
Pelopor lainnya adalah Douglas McGregor, ia menyatakan bahwa manajemen akan mendapat manfaat besar bila ia memenuhi perhatian pada kebutuhan sosial dan aktualisasi dari karyawan. Gregor  mengemukakan ada dua teori yaitu:
1.    Teori X, yang berasumsi bahwa manusia itu tidak menyukai kerja, tidak ada ambisi, tidak ada tanggung jawab, menolak perubahan dan lebih baik dipimpin dari memimpin.
2.    Teori Y, mengandung isi bahwa manajer memandang bawahan bersedia bekerja, bertanggung jawab, mampu mengendalikan diri, dan berpandangan luas secara kreatif.
Implikasi dari asumsi-asumsi itu bila manajer mengikuti teori X cenderung pada tingkat ketergantungan karyawan pada atasan dan enggan untuk bertindak. Dan pada teori Y cenderung mendorong untuk berpartisipasi, ada keabsahan, dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugasnya.
Vromm (felly 1976 ) dengan teori harapan (Ekspektasi) mendasarkan pada dua asumsi, berikut:
1.    Manusia menilai kepada suatu yang diharapkan dari hasilnya.
2.    Suatu usaha yang dikerjakannya akan memberiakan sumbangan terhadap tujuan yang diharapkan.
Vromm mengajukan formulasi prestasi yang berhubungan langsung dengan motivasi sebagai berikut:
P          =f(M x A)
M         =f(V x E)
P          =f(A x V x E)
Keterangan:
            P          =Prestasi Kerja
            M         =Motivasi Kerja
            A         = ability (kemampuan)
            V         =Valiensi (prefensi Keinginan)
            E          =Ekspektasi (harapan)
            Artinya, prestasi kerja seseorang merupakan fungsi dari motivasi dikali ability. Motivasi sendiri merupakan fungsi perakalian dari valensi dengan ekspektasi. Valensi merupakan preferensi keinginan seseorang terhadap sesuatu yang nilainya antara 0-1. Jika sesuatu seseoarng dianggap mempunyai daya tarik bagi orang yang bersangkutan. Sebaliknya, jika mempunyai nilai valensi satu, maka sesuatu yang ditawarkan oleh organisasi mempunyai daya tarik yang sangat tinggi.

C.          Teori Modern
Pendekatan modern berdasarkan hal-hal yang sifatnya situasioanal. Artinya orang menyesuaikan diri dengan situasi dihadapi dan mengambil keputusan sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan. Menurut Murdick dan Ross, system organisasi itu terdiri dari individu, organisasi formal, organisasi informal, gaya kepemimpinan, dan prestasi fisik yang satu sama lain saling berhubungan.
Wiliam A.Shrode dan D. Voich mendefinisikan system berikut; A system is a set of interrelated parts, working independently and jointly, in pursuit of common objectives of the whole a compleks environment. Fitz General and Stalling, system adalah; a system can be defined as a network of interalated procedures that are joint together to performant activity or to occomplish a specific objectives. It is, in, in effct, all ingredient which make up the whole. Dari pengertian tentang system, dapat di identifikasi bahwa sestem mempunyai makna;
1.    Terdiri dari bagian-bagian yang saling berkaitan satu dengan lainya.
2.    Bagian-bagian yang saling berhubungan itu dapat berfungsi baik secara independen maupun secara bersama-sama
3.    Berfungsinya bagian-bagian tersebut ditujukan untuk mencapai tujuan umum secara keseluruhan.
4.    Sesuatu system terdiri dari bagian-bagian itu berada dalam suatu lingkungan yang kompleks
Berdasarkan pengertian diatas secara eksplisit dikemukakan bahwa sesuatu system itu lebih cenderung bersifat terbuka. Hal ini dinyatakan dengan adanya aspek lingkungan yang berhubungan erat dengan bagian-bagian dari system yang berperan.
Di dalam pencapai tujuan organisasi, menurut teori sistim harus didasarkan pada lima asumsi dan perinsip bekerja itu adalah sebagai berikut.
Asuransi
Prinsip
1. Organisasi merupakan sistim terbuka.
2. Organisasi menyapai prestasi maksimum 
3. Tujuan organisasi sangat berfasiasi.
4. Tujuan organisasi saling berhubungan.
5. Tujuan organisasi berubah ubah.
1. Service untuk lingkungan
2. Prinsip optimisme.
3. Multidimensional.
4. Prinsip kehormatan.
5. Prinsip pengurangan resiko.

Secara lebih spesifik Riyans (1968) mengemukakan karakteristik system dibidang pendidikan, sebagai berikut;
1.    Berbagai supsistem, baik fasilitas fisik maupun sumber-sumber lain yang berhubungan dengan sub sistem, merupakan komponen yang saling bergantung, dan saling berhubungan.
2.    Kondisi yang perlu untuk terjadi interaksi antar elemen dari suatu sistem, adalah adanya jaringan informasi bersama (a common information network). Komunikasi anntar elemen sangat penting dalam menjamin berfungsinya suatu sistim sebagai suatu kesatuan (entity) yang terorganisasi dalam menjamin sistem itu menghasilkan keluaran.
3.    Berfungsinya sistem pendidikan yang dasarnya bergantung kepada fungsinya kontrol terhadap aliran dan trenformasi informasi antar elebmen dan sistem tersebut dan antar beberapa sistem yang ada di luar yang berpenaruh terhadap sistem pendidikan.
4.    Pengelolaan informasi merupakan hal yang inherent dalam berfungsinya suatu sistem.

Menapa pendidikan memerlukan pendekatan sistem. Pendekatan sistem merupakan suatu metode atau tehnik analisis yang secara khusus sisebut analisis sistem terutama yang memecahkan masalah, dan pengambilan keputusan.

Analisis sistem mencakup
1.    Menyadari adanya masalah.
2.    Mengidentifikasi vareabel yang releven.
3.    Menganalisis dan mensintesiskan faktor-faktor.
4.    Menentukan kesimpulan dalam bentuk program.

Penggunaan pendekatan diatas sangat diperlukan oleh dunia pendidikan dengan alasan;
1.    Lembaga-lembaga pendidikan telah menjadi semakin komplek dan semakin su.lit untuk dikelola.
2.    Perubahan yang terjadi dalam organisasi pendidikan semakin lama semakin cepat.
3.    Masih langka para pengelola sistem dan satuan suatu  pendidikan yang professional.
4.    Pertumbuhan dan perkembangna pendidikan relative cepat disertai pertambahan anggaran yang tidak sedikit, seringkali mengurangi kesadaran bahwa terdapat kekeliruan-kekeliruan dalam merencanakan dan mengelola pendidikan.
5.    Kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan perlu ditingkatkan.

Beberapa keunggulan pendekatan sistem dalam mengelola pendidikan antara lain;
1.    Misi, sasaran, dan tujuan lembaga pendidikan yang dijabarkan lebih luas
2.    Program-program yang dirumuskan selalu diarahkan pada tujuan dan sasaran
3.    Orentasi kegiatan diarahkan kepada hasil akhir
4.    Perencanaan dipandang sebagi bagian integral dari keseluruhan operasi lembaga atau organisasi pendidikan
5.    Sumber-sumber daya dapat dialokasikan dengan lebih efektif berdasarkan sksla prioritas yang disusun menurut besarnya sumbangan terhadap pencapaian tujuan
6.    Informasi yang diperlukan untuk perencanaan dan pengambilan keputusan dapat dirancang dan dikelola secara terpadu
7.    Segal kegiatan dapat difokuskan pada pencapaian sasaran, sehingga pemborosan dapat ditekan seminimal mungkin.
8.    Pimpinan pengelola dapat dinilai hasil pekerjaannya secara objektif Karena sarat pekerjaan jelas
9.    Penegelola dapat mengembangkan kreativitas dalam batas kewenangan yang telah ditetapkan
10.     Akuntabilitas dapat dirumuskan secara jelas dan operasional
11.     Umpan balik dapat diperoleh pada semua tingkat pendidikan
12.     Komunikasi antar komponen dapat terbina dengan lebih baik sehingga kesalahpahaman dapat dikurangi
13.     Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab dapat dilaksanakan secar lebih baik
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teori modern dengan pandangan sistem memandang organisasi itu terbuka dan kompleks. Tiga unsur pokok yaitu; analisis sistem, rancangan sistem, dan manajemen member petunjuk dalam mengoprasionalkan pendekatan sistem.




Tidak ada komentar: